Tangisan Novia, Memperjuangkan Keadilan

  • Bagikan

Muhammad Taufiq (Ketua III Rayon PAI Al-Asy’ari)

Novia Widyasari. Seorang mahasiswi yatim yang bunuh diri di samping makam ayahnya pada hari Kamis 2 Desember 2021 di Dusun Sugihan, Desa Japan, Kecamatan Sooko, Mojokerto karena diperkosa hingga di paksa menggugurkan kandungan oleh pacarnya. Bahkan, tidak sedikit yang menuntut agar pihak berwajib segera mengusut tuntas kasus ini karena pacar dari mahasiswi Universitas Brawijaya Malang ini merupakan seorang Polisi yang bernama Randy.

Hari ini, jutaan orang mengeratkan solidaritas, mempertanyakan dimana keadilan, dan menggugat nilai-nilai penindasan kepada perempuan. Ia menjadi korban pemerkosaan pacarnya dengan modus pemberian obat-obatan. Padahal ia sudah meminta pertanggungjawaban kepada keparat tersebut. Namun, apa yang terjadi oknum polisi tersebut memaksa menelan sebanyak-banyaknya pil aborsi. Ia harus menjalani perawatan di Rumah Sakit sendirian, dan ibu pacarnya tak sekalipun peduli dengan nasibnya.

Dunia ini sangat kejam, berjalan menurut kuasa para kaum yang memiliki kebencian secara ekstrem terhadap perempuan. Kehormatan dan kemuliaan dibangun berdasarkan kepentingan laki-laki. Segala hal yang bermaksud menyulitkan laki-laki, akan di marjinalkan. Ada nama baik yang harus dijaga, seperti ada nama baik lembaga pendidikan yang dikuasai laki-laki, ruang kerja yang dikuasai laki laki,  dan lembaga penegak hukum yang dikuasai laki-laki. Sayang sekali, demi nama baik itu Novia mesti kalah.

Mereka manusia, tapi tak bisa melihatmu sebagai manusia, mereka berhasil mengenakan seragam dan jabatan kepada anak, tapi lupa menyematkan adab. Novia mengakses layanan aduan PPA tapi mendapat respons lamban. Ayahnya baru saja meninggal, dan ia meminta kepada pamannya, tetapi di ancam untuk membunuhnya dan bayinya karena di anggap mencoreng nama baik keluarga.

Coretan kalis untuk Novia.

Dear Novia. Namamu kini sudah tenang bersama Marsinah beserta pahlawan lainnya. Negara ini berhutang untuk nyawamu. Demi Novia dan semua penyintas yang masih kesakitan, semoga kami semua bisa memperjuangkan Permendikbudristek nomor 30 tahun 2021 dan RUU TPKS. Dunia yang udaranya sejuk, ruangannya lega, dan derap hari memberi tenang pada kita semua, perempuan…

Semoga masih banyak harapan buat kalian (perempuan), yang dapat rumah aman, konseling dan bantuan hukum.

Please, bertahan.
Saya butuh kalian agar kita bisa berjuang bersama-sama.
Please, bertahan.

Coretan yg indah dibuat oleh kalis ini sangat banyak mengundang perhatian manusia terkhususnya kaum perempuan. Semoga tak ada lagi kaum misogini yg memarjinalkan perempuan. Sehingga perempuan bisa hidup damai, tenang dan tentram dengan semestinya.

  • Bagikan