Tahun Baru Islam 1443 H, Penetapan Dan Polemik Peringatannya

  • Bagikan

Oleh: Mustatho, S.H.I., M.Pd.I

Polemik penggeseran tanggal libur Tahun Baru Islam 1 Muharram 1443 H menuai kontroversi di Media Sosial. Ada yang menilai pemerintah tak acuh terhadap perasaan Umat Islam Indonesia, namun sebagian memaknai lebih dalam lagi bahwa pergeseran tersebut adalah strategi pemerintah untuk menghindari penumpukan hari libur guna mengurangi mobilitas masyarakat di tengah pandemi Covid-19 yang belum menentu.

Perubahan dan penggeseran hari libur tersebut tertuang dalam Keputusan bersama Menag, Menaker, dan Menpan RB No 712, 1, dan 3 tahun 2021 tentang Perubahan Kedua atas Keputusan Bersama Menag, Menaker, Menpan dan RB No 642, 4, dan 4 tahun 2020 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama.

Pada SKB tersebut mengatur semua hari libur tidak hanya hari libur dalam rangka peringatan 1 Muharram 1443 H, ada juga perubahan hari libur dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw, 12 Rabiul Awwal 1443 H yang awalnya hari liburnya 19 Oktober, berubah menjadi 20 Oktober 2021 M.

Terlepas dari polemik yang ada di masyarakat, pertanyaan yang lebih substantif yang mestinya disadari oleh umat Islam Indonesia adalah betulkah Muharram adalah Tahun Baru Islam? Jika betul, mulai kapan Tahun Baru Islam tersebut ditetapkan? Dan oleh siapa penetapan tahun baru Islam tersebut?

Pertanyaan di atas akan mengarahkan masyarakat Indonesia kepada kecerdasan religius dan ke model kegamaan yang sebenarnya, ketimbang berdebat libur yang dipindahkan oleh Pemerintah. Sebagaimana kaidah fiqh yang diterangkan oleh Imam Syafi’i berbunyi al-ashlu fil asy’ya’ al Ibahah Hatta yadullu Dalil ‘ala tahrimihi (hukum asal sesuatu adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya).

Substansi Tahun Baru Islam

Bulan Muharram adalah satu diantara dua belas bulan dalam kalender hijriah. Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam dua belas bulan kalender Hijriah. Kalender Hijriah sendiri adalah kalender Islam yang menggunakan perhitungan  waktu berdasar peredaran bulan mengitari matahari, yang dalam sebulannya, kalender hijriah memiliki hari antara 29 sampai 30 hari.

Peringatan 1 Muharram sebagai tahun baru Islam di sana-sini menyisakan tanya, dan membutuhkan pelurusan makna. Pelurusan makna terhadap peringatan 1 Muharram ini berakar pada dua hal; pertama adanya persepsi masyarakat umum bahwa diambilnya muharram sebagai tahun baru Islam adalah karena pada bulan Muharram terjadi momen hijrah Nabi sebagai pembuka gerbang dakwah Islam. Kedua, memperingati 1 Muharram sebagai tahun baru hijrah adalah perbuatan bidah yang dilarang oleh agama Islam.

Pertama ada salah persepsi di tengah masyarakat muslim terkait 1 Muharram sebagai awal bulan Hijriah dengan  pemaknaan bahwa sekaligus di bulan Muharram tersebut hijrah Nabi Muhammad ini terjadi. Persepsi ini dapat dinilai wajar dan sangat kuat munculnya karena basis pemahaman keagamaan seorang muslim lumrahnya akan tergiring bahwa kalender hijriah ditetapkan semenjak Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah yang terjadi pada tahun 622 M.

Maka menjadi penting membuka kembali bagaimana proses penetapan dan pemilihan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah. Bahwa proses pemilihan dan penetapan Muharram sebagai bulan pertama dalam Islam sekaligus menjadi tahun baru Islam terekam oleh Al-Sakhawi dalam kitabnya al-Ilan bi al-Taabikh li Man Dzamm al-Taarikh.

Al-Sakhawi menyampaikan sejarah penetapan tahun baru Islam tersebut. Oleh Al-Sakhawi diterangkan, terdapat empat opsi di kalangan sahabat tentang dasar penentuan kalender Islam, empat opsi tersebut adalah: (1) Tahun kelahiran Rasulullah, (2) tahun pengangkatan beliau sebagai Rasul, (3) tahun beliau berhijrah, dan (4) tahun kemangkatan beliau. Oleh Khalifah Umar bin Khattab, pada akhirnya para sahabat sepakat menjadikan hijrah nabi sebagai momentum kesadaran pembentukan kalender Islam.

Setelah dipilih momentum hijrah sebagai dasar, di kalangan para sahabat ini timbul silang pendapat tentang pemilihan permulaan bulan, ada yang mengusulkan sekaligus bulan rabiul awal (sebagaimana bulan hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah) sebagai bulan pertama dalam Islam, ada pula yang mengusulkan dimulai pada bulan Muharram. Karena berbagai pertimbangan akhirnya khalifah Umar memutuskan bahwa tahun 1 Muharram/Hijriah dimulai dari bulan Muharram bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 M.

Bulan pertama dalam kalender Islam ini pada akhirnya bukan bertepatan dengan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW yang terjadi pada bulan Rabiul Awal.

Kedua, pemilihan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender hijriah pada akhirnya bukan karena momentum hijrah Nabi SAW. Penetapan dan pemilihan Muharram lebih didasarkan atas banyaknya keutamaan yang ada pada bulan Muharram tersebut. Diantara pertimbangan yang ada adalah, bulan Muharram sudah dikenal luas di masyarakat Arab sebelum Islam sebagai bulan suci yang di dalamnya diharamkan peperangan dan perbuatan dosa lainnya.

Sebagaimana tercatat dalam al-Quran “Sesungguhnya bilangan bulan disisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu.” (Q.S. At Taubah: 36) Para ulama menafsirkan empat bulan haram tersebut adalah Rajab, dzulqadah, dzulhijjah dan Muharram.

Peringatan Tahun Baru Islam


Peringatan tahun baru Islam yang oleh sebagian umat Islam diperingati dengan khidmat dan menitikberatkan pada nilai muhasabah ini, oleh kalangan tertentu dilabeli hukum haram. Petimbangan haram mereka berlandas dua alasan; pertama unsur tasyabuh yang ada di dalamnya, kedua karena unsur bidah. Mereka berasumsi bahwa tasyabuh (penyerupaan) dilarang dalam Islam dengan berdasar hadis Nabi “barang siapa meniru tingkah laku (tasyabuh) suatu kaum, maka dia tergolong dari mereka”.

Asumsi bidah tersebut terbangun karena peringatan tahun baru Islam tidak pernah terjadi pada zaman nabi dan para sahabat. Lebih jauh pendapat ini dikutakan dengan alasan bahwa “Islam hanya mengenal dua perayaan, yakni hari raya idul fitri dan hari raya idul adha”.


Menyikapi persoalan ini, langkah yang tepat menurut penulis adalah dengan dua cara, pertama umat Islam dapat memilih jalan tengah, yakni jalan persatuan umat. Artinya bahwa tuduhan bidah dan menganggap tasyabuh terhadap perbuatan orang lain yang seagama justru akan memperuncing perbedaan yang akan berakibat kepada kerusakan dan perpecahan. Semestinya hal ini dihindari sebagaimana kaidah hukum Islam “menghindari kerusakan lebih diutamakan dari pada meraih kemaslahatan”.

Kedua, menghargai seraya khusnudzon (berbaik sangka) kepada mereka yang memperingatinya adalah gambaran kedewasaan diri dan kesempurnaan agama seseorang. Sebagaimana tidaklah mungkin umat Islam yang memperingati tahun baru Islam ini dengan niat dan tujuan tasyabuh (ikut-ikutan) kepada umat non muslim, terlebih lagi subtansi peringatan tahun baru Islam berbeda dengan peringatan-peringatan yang dimiliki umat di luar Islam. Kaidah fiqih untuk hal ini adalah al-umuru bimaqasidiha (persoalan itu berpulang kepada maksud dan tujuannya).


Terakhir, bidah dalam peringatan tahun baru Islam bukanlah bidah yang harus digolongkan langsung sebagai bidah dholalah (sesuatu yang sesat), karena bidah dholalah adalah segala sesuatu yang telah ditentukan kesesataannya oleh syariat Islam, bukan oleh orang perorang ataupun kelompok tertentu dalam Islam. Sebagaimana Hukum Islam mengakui konsep maslahah mursalah adalah kebaikan yang belum diatur oleh Islam bentuk dan jenisnya. Yang lebih penting lagi adalah Islam sejatinya menganjurkan untuk senantiasa muhasabah dan menjadikan semua kejadian (sejarah) sebagai ibrah untuk hari depan yang lebih bertakwa lagi.

Dari sana umat bisa menilai pengunduran libur bukan bermakna dilarang diperingati. Karena peringatan Tahun Baru Islam 1443 H sekaligus upaya untuk mengingat (berzikir) kepada Allah dan menandai perjalanan waktuNya untuk menuju umat yang lebih baik lagi, sebagaimana cita-cita awal khalifah Umar sebagai penggagas kalender Hijriah ini. Amin 

Mustatho, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta (STAIS) Kutai Timur, Alumnus UIN Sunan Kalijaga dan Sekolah Paramadina Jakarta
Email: [email protected]

  • Bagikan