Sikapi Penggabungan STAIS-STIPER Menjadi Universitas Kudungga, Aliansi Dosen Dan Karyawan STAIS Bersuara

  • Bagikan

Sangatta- Rencana penggabungan dua Perguruan Tinggi Swasta di Kutai Timur, yakni Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta (STAIS) dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) menjadi Universitas Kudungga oleh Pemkab Kutim direspon tegas oleh Aliansi Dosen Muda dan Karyawan STAIS.

Menurut Aliansi Dosen dan Karyawan STAIS terdapat beberapa kejanggalan dan keanehan yang bisa ditilik dalam pelaksanaan rapat dan usaha penggabungan tersebut, hal itu disampaikan langsung oleh Mustatho mewakili Aliansi.

“Iya ada keanehan dalam pertemuan yang digagas sekda kutim pagi tadi. pertemuan tersebut jauh dari cerminan nilai akademis, yang terukur, terstruktur dam sistematis. Ini tiba-tiba ngundang rapat dan langsung terbentuk tim formatur, tanpa ada pembicaraan internal kampus dengan kesanggupan masing-masing maupun antar 2 kampus dalam bentuk kajian akademis”, ucap Mustatho ditemui media ini (Rabu, 28/4/2021).

Mustatho juga mengkritisi ada banyak persoalan mendesak yang harus diselesaikan oleh kampus yang semestinya pemkab mengetahuinya, agar persoalan tersebut diselesaikan terlebih dulu, baru bisa bicara penggabungan.

“Persolan mendesak di Kampus STAIS itu banyak, pertama pemilihan dan penetapan ketua STAI Sangatta yang belum juga jelas kapan, padahal angkatan terakhir sudah diwisuda namun blm dapat ijazah krn belum ada ketua baru, kedua sistem operasional pendanaan kampus melalui pemberian dana bansos dari Pemkab Kutim yang tidak ada standar ukur yang jelas, antara pemberian dana dan kebutuhan tahunan akademik selalu minus krn tidak sesuai RAB yang diajukan, dan ini berakibat pada tidak optimalnya penyelenggaraan tridharma perguruan tinggi di STAI Sangatta”, tambahnya.

Mustatho menyayangkan semestinya wacana penggabungan ini bisa ditindaklanjuti ketika kondisi STAI Sangatta sudah normal.

“Kami di STAI Sangatta ini belum ada ketua, bagaimana bisa ada perwakilan yang bicara dengan pemkab untuk memberi masukan perihal penggabungan tersebut? Dan yang paling utama adalah gaji dosen dan karyawan STAI Sangatta telah 5 bulan belum terbayarkan”, tegas Mustatho

Sementara itu, kritik yang sama juga dilontarkan oleh Mukhtar sekretaris Aliansi Dosen Muda dan Karyawan STAIS. Menurut Mukhtar, Pemkab Kutim belum perlu memikirkan upaya penggabungan menjadi universitas, yang perlu dipikirkan menurut Mukhtar bagaimana pembiayaan di STAI dan STIPER itu lancar dari tahun ke tahun.


“Saya ngga tahu, pemerintah ngigau atau bener bener serius untuk menggabungkan STAIS dan STIPER menjadi Universitas. Harusnya pemerintah lebih berpikir bagaimana pembiayaan di dua kampus tersebut itu lancar. Misalnya saja Mas, sejak 2012 saya kerja di STAIS, soal penggajian selalu tertunda sampai hari ini, paling cepet empat bulan sekali baru gajian. Pemkab harusnya melihat, bagaimana kondisi dosen dan karyawan menghidupi keluarganya dengan model penggajian tersebut, mereka pontang-panting”, kata Mukhtar pada (28/4/2021).


Lanjutnya, Mukhtar juga mengingatkan pemkab untuk tidak setengah hati bertanggungjawab dalam mengelola lembaga pendidikan yang dibiayainya agar lembaga tersebut maju dan berkembang.

“Kalau digabung menjadi universitas dan seandainya statusnya tetap yang dibiayai oleh pemerintah, apakah ada jaminan akan menjadi maju karena selama ini pemerintah terlihat setengah hati dalam tanggungjawabnya, khususnya di STAIS yang minim pembiayaannya, hanya cukup untuk gaji, itupun empat bulan sekali paling cepet. Sementara kegiatan kegiatan penunjang akademik tidak bisa dilaksanakan karena minimnya biaya yang digelontorkan pemerintah”, tutupnya.

Sebagai Informasi bahwa kemarin pagi (Selasa 27/4/2021) telah diselenggarakan rapat lintas perguruan tinggi yang difasilitasi pemkab kutim dengan hasil dibentuknya tim formatur yang diketuai langsung oleh Sekda Kutai Timur Drs. Irawansyah, MSi untuk mengkaji penggabungan 2 Perguruan tinggi swasta di Kutim (STAIS-STIPER) menjadi Universitas Kudungga. (*)

  • Bagikan