oleh

May Day; Lemahnya Imunitas Buruh & Kuatnya Impunitas Pemilik Modal

-Opini-44 views

Oleh: Randi Muhammad Gumilang
(Aktivis Sosial & Penggiat Lingkungan)

Peringatan Hari Buruh (May Day) tahun 2021 merupakan momentum yang “istimewa” karena bertepatan dengan bulan Ramadhan dan tentu saja masih dalam masa Pandemi Covid 19. Hal ini bukan karena naik nya upah buruh atau sebab THR yang diberikan bagi para buruh menjelang Idul Fitri tahun ini. Akan tetapi menjadi istimewa sebab dalam setiap tahunnya adalah sarana refleksi atas capaian atau dinamika dunia perburuhan, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Sebagai refleksi bahwa hari buruh tahun ini masih menyisakan segudang “kegetiran”, bagaimana pasca penetapan Omnibuslaw Cipta Lapangan Kerja (CILAKA), posisi buruh menjadi kian melemah dihadapan arus investasi yang mengalir deras. Penolak demi penolakan tidak membuat atau merubah putusan akan produk hukum yang tidak berpihak pada kaum buruh.

Di tahun ini juga, para buruh masih berkutat dengan susah payah, compang-camping menghadapi krisis akibat pandemi Covid-19. Buruh “di rumahkan”, pemotongan upah, PHK dan segunung persoalan yang melemahkan kehidupan para buruh. Jaminan sosial dimasa pandemi atau bahkan alih keahlian melalui pendidikan ataupun pelatihan seperti dalam kasus Kartu Pra-Kerja terasa tidak solutif akan masalah aktual yg dihadapi para buruh saat ini.

Saat Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengampanyekan tentang “imunitas” buruh di tengah pandemi dalam bentuk penguatan dan perlindungan kerja buruh, sejatinya hal tersebut tidak mengubah banyak hal bagi nasib nuruh di negeri ini. Sebab yang terjadi dari hari ke hari justru menguat nya “impunitas” para Investor pemilik modal. Impunitas yang memberikan ruang lebih bagi para investor untuk secara leluasa mengakses (eksploitasi) atas sumber daya yang ada di negeri ini, baik sumber daya alam (SDA) dan tentu nya Sumber Daya Manusia (SDM) yakni para buruh.

Upah murah, jaminan/ perlindungan rendah dan keselamatan kerja yang tidak memadai, perlindungan hukum yang lemah dan perjanjian kerja yang menguntungkan secara sepihak bagi para investor pemilik modal adalah serangkaian “THR” pahit yang harus di terima para buruh tahun ini. Tidak banyak pilihan nasib yg dapat diperoleh oleh para buruh dimasa krisis, sebab serangakaian program pemerintah tidak sejalan dengan apa yang dibutuhkan oleh para buruh dalam situasi krisis saat ini.

Dilain sisi impunitas ini juga secara pasti berdampak multidimensional, dimana impunitas para pemilik modal telah merampas ruang hidup masyarakat atas sumber daya alam yang ada diberbagai kawasan negeri ini. Mulai dari pengunungan Kendeng (Jawa), Tanah Subur di Merauke (Papua), Perairan Laut di Kodingareng (Sulawesi), atau Hutan Adat di Kinipan (Kalimantan) dan wilayah lainnya adalah daftar panjang kawasan yang teracam oleh investasi yang tak tersentuh oleh hukum yang berpihak pada rakyat.


Mengapa hal ini menjadi persoalan, bukankah kehadiran investor adalah pertanda lahirnya ruang dan peluang kerja bagi jutaaan tenaga kerja yang siap diserap oleh para pelaku usaha/ industri. Jelas menjadi persoalan sebab masyarkat tidak lagi menjadi buruh atas diri mereka sendiri, sehingga kesejahteraan dan kedaulatan hidup ada ditangan mereka sendiri. Akan tetapi telah beralih menjadi buruh atas kuasa pemilik modal yang tidak mengidahkan nilai-nilai kedaulatan, kecuali hanya untuk tujuan-tujuan materialitis dan pragmatis para investor pemilik modal.

Sebagai ikhtisar bahwa tidak ada kesejateraan dan kedaulatan yang ditopang oleh kesemuan dari dongeng-dongen indah para pemilik modal. Dan tidak ada kesadaran tanpa adanya perjuangan bagi kamu buruh di negeri ini. Panjang umur perjuangan, selamat hari buruh.

Komentar

Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Bijaklah dalam memilih kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA. Salam hangat. [Redaksi]

News Feed