Khutbah Jumat: Peroleh Anugerah Mabrur Meski Tak Jadi Berangkat Haji

  • Bagikan

Dalam kitab An-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi dikisahkan, suatu hari seorang ulama Abdullah bin Mubarak berangkat menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Namun, ketika ia sampai di kota Kufah, perjalanannya terhenti karena melihat kondisi miris seorang perempuan di kota tersebut yang mengonsumsi bangkai itik bersama anak-anaknya.

Lantas ia menegur perbuatan tersebut dan menyampaikan bahwa konsumsi semacam itu haram hukumnya. Namun nasehat tesebut tidak didengarkan mereka, keluarga tersebut tetap memakan bangkai itu karena terpaksa. Keluarga tersebut sudah tiga hari tidak mendapat makanan. Untuk mempertahankan hidup, satu keluarga miskin tersebut menelan apa saja yang bisa dimakan.

Hati Abdullah bin Mubarak menangis. Ia lantas menyedekahkan keledai tunggangannya, beserta barang-barang bawaannya, termasuk makanan dan pakaian, kepada keluarga malang itu.

Abdullah bin Mubarak akhirnya tidak memiliki bekal untuk melanjutkan perjalannya ke Tanah Suci dan ia gagal menjalankan ibadah haji tahun itu.

Ketika balik ke kampung halaman, alangkah kagetnya ia lantaran mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat sebagai orang yang baru datang dari ibadah haji. Abdullah bin Mubarak pun protes campur malu, dan berterus terang bahwa kali ini ia gagal pergi ke Tanah Suci.

“Sungguh aku tidak menunaikan haji tahun ini,” katanya meyakinkan orang-orang yang menyambutnya. Sementara itu, kawan-kawannya yang berhaji menyampaikan testimoni yang membuat Abdullah bin Mubarak semakin bingung. Mereka mengaku bertemu dengannya berada di Makkah dan membantu kawan-kawannya itu membawakan bekal, memberi minum, atau membelikan sejumlah barang.

Abdullah bin Mubarak pada malam harinya mendapat jawaban melalui mimpi. Dalam tidur itu, Abdullah mendengar suara, “Hai Abdullah, Allah telah menerima amal sedekahmu dan mengutus malaikat menyerupai sosokmu, menggantikanmu menunaikan ibadah haji.”

Jamaah shalat Jumat hadâkumullâh, Subhanallah.

Perbuatan ulama tersebut selaras pula dengan kaidah fiqih:
المُتَعَدِّيْ أَفْضَلُ مِنَ القَاصِرِ
Ibadah sosial lebih utama ketimbang ibadah individual.”

Jamaah shalat Jumat hadâkumullâh, Kisah tersebut juga memberikan pelajaran bagi kita semua, pertama tidak terlalu larut dalam kesedihan ketika belum mampu berangkat haji lantaran keterbatasan ekonomi atau halangan lainnya. Kedua, Abdullah bin Mubarak telah melaksanakan “al-birru” atau kebajikan yang memang sangat dianjurkan dalam Islam. Ia menyedekahkan sesuatu yang sejatinya ia perlukan untuk menunaikan ibadah haji.

Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan (yang sempurna), sebelum kalian mendermakan sebagian dari hartamu yang kamu cintai. (QS Ali Imran: 92)

Kata “Al-birru” berasal dari kata barra-yabirru yang berarti berbuat baik. Dari kata ini pula terbentuk istilah mabrûr yang identik dengan Haji mabrur. Pemilik predikat haji mabrur sejatinya tidak hanya meningkat ibadahnya melainkan juga meningkat kepeduliannya terhadap persoalan di sekelilingnya. Artinya, substansi mabrûr ada pada akhlak seseorang yakni seseorang yang pulang haji jika bertambah kebaikan dan akhlaknya menjadi mulia, maka ia layak menyandang gelar Haji Mabrur. Amin

  • Bagikan