Jemput Lailatul Qadar Dengan Mengoptimalkan Akhir Bulan Ramadhan 1442 H

  • Bagikan

Tak terasa bulan Ramadlan tahun 1442 H hampir berakhir tanpa banyak umat Islam  merasa kehilangan dan  sedih, karena memang biasanya pengakuan tentang pentingnya sesuatu itu kebanyakan  baru  muncul  pada  saat  sesuatu  itu  telah  tiada. Ketika  sesuatu  itu  telah berpisah  dari  kita, biasanya  baru  terasa  ada  perasaan  kehilangan. Begitu juga halnya dengan  nilai  pentingnya  bulan  Ramadlan akan terasa manakala bulan Ramadlan  telah  berakhir.

Karena saking penting dan  berharganya bulan Ramadlan ini, para malaikat, bumi dan langit menangis ketika bulan Ramadlan akan berakhir.

إذَا كَانَ َاخِرُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ بَكَتِ السَّمَوَاتُ وَاْلاَرْضُ وِالْمَلاَئِكَةُ مُصِيْبَةً لِاُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قِيْلَ اَيُّ مُصِيْبَةٍ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم هِيَ ذَهَابُ رَمَضَانَ لِاَنَّ الدَّعْوَاتِ فِيْهِ مُسْتَجَابَةٌ وَالصَّدَاقَةً مَقْبُوْلَةٌ (الحديث

“Ketika tiba akhir malam Ramadlan, langit, bumi dan malaikat menangis karena adanya musibah yang menimpa umat Nabi Muhammad. (Sahabat) bertanya, “Musibah apakah wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Berpisah dengan bulan Ramadlan, sebab pada bulan ini doa dikabulkan dan shadaqah diterima.”

Ma’asyiral muslimin, rohimakumullah.

Bagi kita yang dapat melaksanakan ibadah puasa dan serangkaian ibadah-ibadah lainnya di bulan ini tentu harus bersyukur kepada Allah SWT, dengan harapan semoga serangkaian ibadah yang dilakukan pada bulan suci ini merupakan proses untuk menjadikannya sebagai manusia yang bertaqwa, sesuai dengan apa yang difirmankan oleh Allah SWT:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al Baqarah;183).

 

Salah satu bentuk ekspresi syukur atas pelaksanaan ibadah di bulan Ramadlan adalah tidak terjadinya kemandekan amal setelahnya. Hal ini bisa dibuktikan antara lain dengan anjuran menyusuli puasa Ramadlan dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Artinya selepas bulan Ramadlan sebisa mungkin amal seseorang justru harus lebih ditingkatkan. Jika bulan Ramadlan merupakan bulan pembakaran, maka bulan Syawal nanti adalah bulan peningkatan amal sebagaimana makna harfiyahnya masing-masing.

Keterputusan amal bersamaan berlalunya bulan Ramadlan harus benar-benar dihindari. Sebaik-baiknya amal adalah amal yang sambung-menyambung, susul-menyusul dan tidak berhenti karena Ramadhan selesai. Allah SWT. berfirman:

 

فإذا فرغت فانصب

“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), maka lanjutkanlah dengan sungguh-sungguh (urusan lain).” (QS. Alamnashrah:7).

 

Rasulullah SAW bersabda:

أحب الأعمال إلى الله الحال المرتحل أخرجه الترميذي

“Sebaik-baiknya amal bagi Allah SWT adalah begitu selesai (sampai tujuan) segera berangkat lagi.”

  • Bagikan