Ironi Pembangunan Odah Etam

  • Bagikan

Oleh: Randi Muhammad Gumilang (GusDurian Kaltim)

Musim penghujan yang terjadi di bulan september memberikan ujian tersendiri bagi masyarakat Kalimantan Timur, bagaimana tidak di beberapa tempat terjadi berbagai bentuk kerusakan infrastruktur penghubung antar kawasan. Sebut saja Tanah Longsor dan Amblas nya Ruas Jalan Sangatta-Rantau Pulung yg menjadi penghubung beberapa kecamatan di Kutai Timur, sekaligus jalan alternatif Lintas Provinsi. Kemudian yang teranyar aialah jalan poros Samarinda-Kota Bangun yang tidak kalah vital sebagai sarana mobilitas masyarakat Kalimantan Timur.

Tapi tentu saja itu bukan judul berita yang tersaji dalam satu episode, sebut saja seperti derita masyarakat Desa Ngadang, Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara yang jalanan desa nya merupakan jalur penghubung utama tepi sungai mahakam selama lebih dari satu dasawarsa bermandikan lumpur dan tanah liat. Ironis nya kawasan tersebut berada di wilayab kabupaten yang beberapa tahun silam ditahbiskan sebagai salah satu Kabupaten Terkaya dgn APBD yang “mengagumkan”. Di lain tempat, jalanan Aspal / Cor mulus sejatinya dinikmati oleh masyarakat, akan tetapi justru menjadi TOL bagi arus Tambang Batubara Koridor yang tersebar mulai dari Tepian Mahakam, Pesisir Muara Badak hingga Marang Kayu. Ironisnya bahwa di kawasan yang sama Tertulis Plang-plang pentujuk Objek Wisata yang diharapkan menjadi daya tarik wistawan dan penggerak ekonomi masyarakat. Entah bagaimana menyatukan logika pemberdayaan dan nalar destruktif – eksploitatif menjadi satu kesatuan arah serta kebijakan pemerintah daerah?

“Lain ladang, lain ilalang walau hama/ masalahnya nya tetap saja sama”. Cerita serupa juga menjadi realitas aktual bagi masyarakat Kutai Utara (harapannya) seperti Muara Bengkal,Muara Ancalong, Long Mesangat dan Busang bahwa sejak menjadi bagian dari kabupaten Kutai Timur tidak banyak hal yang berubah, akses utama menuju kabupaten atau provinsi melalui jalanan batu dan tanah liat yang bermandikan debu saat musim kemarau dan lumpur dimusim penghujan. Dilain sisi atas nama pembangunan gugusan Karst Sangkulirang-Mangkalihat dikeruk dengan massif dengan tanpa mengidahkan aspek ekologis, sosial serta budaya yang ada. Sebut saja polemik rusak nya kawasan Gua Segegeh dan Potensi Konflik Ketenagakerjaan (TKA) yang menyeruak ke Publik.

Cerita-cerita diatas jelas tidak akan ada habisnya, dinyanyikan sebagai dongeng indah kutukan sumber daya alam. Harapan-demi harapan pada para pemimpin daerah atau wakil rakyat akan bermuara pada narasi yang sama. Satu dua orang akan tampil ke permukaan, membangun opini kepedulian dan mengambil panggung popularitas, namun tidak menyentuh persoalan mendasar dalam ironi pembangunan di Odah Etam.

  • Bagikan