Guru Dan Sekolah Sebagai Kunci Sukses Pembelajaran Daring

  • Bagikan

Oleh: Muhammad Arwan (Mahasiswa Prodi PGMI STAI Sangatta)

Sudah hampir dua tahun, siswa tidak merasakan pembelajaran tatap muka, bertemu guru dan teman-temannya, dunia pendidikan berubah paradigmanya dari paradigma fenomenologi (peserta didik merasakan pengalaman belajar langsung) menjadi paradigma imaginatif (bersua melalui media imaginasi dan teknologi).

Gambaran dunia pendidikan di atas adalah sebuah akibat karena munculnya virus COVID-19 pada akhir tahun 2019 yang ditemukan di Wuhan Cina. Lalu mulailah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Sayangnya, kemunculan awal virus tersebut diabaikan oleh pemerintah setempat khususnya pemerintah Indonesia, dan tidak disangka penyebarannya begitu cepat.

Manejemen awal pemerintah Indonesia yang kurang responship terhadap kemunculan wabah global tersebut terbukti kurang tepat. Alih-alih pemerintah Indonesia menyiapkan diri untuk memproteksi semua warganya agar tidak terpapar, pemerintah Indonesia saat itu justru membantu masyarakat Cina yang terpapar Covi-19 dengan berkirim masker dan obat-obatan. Dan pada akhirnya pemerintah Indonesia justru kelabakan dan setelah hampir 2 tahun berjalan belum juga mampu mengatasi persoalan pandemi ini.

Harus diakui, betapa sulit memang berperang dan memberantas virus yang menyerang imun manusia tersebut. Penyebarannya sangat cepat, lebih-lebih karena tipikal manusia Indonesia yang budaya kumpul-kumpulnya tinggi dan nilai sosialnya kuat. Masyarakat Indonesia akan cenderung malu jika ada kegiatan sosial dan mereka tidak mengikutinya, pada hal berkerumun dan tidak menjaga jarak bisa menjadi penyebab penyebaran covid-19.

COVID-19 akhir-akhir ini sudah banyak memakan korban jiwa dari ribuan menjadi jutaan, Rumah Sakit Penuh dan tenaga kesehatan banyak yang kelelahan. Pemerintah Indonesia pun mengeluarkan kebijakan baru berupa kategorisasi PPKM, bertingkat mulai dari PPKM Level 1 sampai PPKM level 4; dan Kabupaten Kutai Timur masuk kategori PPKM level 4 dimana semua aktifitas sosial harus dibatasi.

Kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh

Ketika covid-19 menyebar ke Indonesia pemerintah membuat beberapa kebijakan nasional untuk menghentikan lajunya penyebaran covid-19. Kebijakan nasional ini dirumuskan dalam berbagai bidang terutama pendidikan. Salah satu kebijakan di bidang kesehatan adalah menerapkan protokol kesehatan untuk menekan membludaknya pasien pandemi di berbagai rumah sakit dan kewalahan tenaga kesehatan. Protokol tersebut dilaksanakan di seluruh Indonesia oleh pemerintah dengan dipandu secara terpusat oleh Kementrian Kesehatan RI. Salah satu dampak pandemi covid-19 menerpa di bidang pendidikan.

Sejak ditetapkan sebagai bencana nasional, pemerintah Indonesia melalui menteri Pendidikan Nasional membuat kebijakan pendidikan melalui tatap muka menjadi pembelajaran di rumah. Artinya kegiatan belajar mengajar yang biasanya dilakukan di sekolah menjadi di rumah. Namun Sistem tersebut tidak sepenuhnya sempurna, di sana-sini banyak dijumpai masalah dan kendala.

Permasalah yang ada bersumbu pada sistem pendidikan nasional selalu berubah–ubah. Beberapa tahun sistem pendidikan ini selalu berganti. Begitu juga ujian nasional ikut berubah yang semulanya ujian nasional berbasis kertas pensil menjadi ujian nasional berbasis komputer. Ini saja banyak kendala yang dijumpai. Belum lagi pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh baik luar jaringan maupun dalam jaringan. Pada umumnya pembelajaran jarak jauh dikenal sebagai pembelajaran online.

Kesiapan Sekolah Sebagai Kunci Kesuksesan Pembelajaran Daring

Kesiapan sekolah atau madrasah menjadi kunci keberhasilan perubahan sistem pendidikan online. Pemerintah pun memberikan kemudahan kepada sekolah di dalam memberikan penilaian. Tahun ini pemerintah menghapuskan ujian nasional dan memberikan keleluasaan kepada para guru di dalam penilaian siswa di saat darurat ini.

Perubahan kebijakan pembelajaran online tentunya mengikuti perkembangan teknologi yang berkembang pesat. Penggunaan teknologi juga banyak mengalami masalah. Banyak faktor yang menghambat pendidikan daring ini seperti penguasaan teknologi, sarana prasarana, jaringan internet dan biaya. Oleh karena itu, tentunya sukses dan tidaknya pembelajaran daring tersebut berpulang kepada seorang guru mampu atau tidaknya mengoptimalkan teknologi yang ada. Guru mampu atau tidak berpulang ke sekolah bagaimana menfasilitasi dan mempersiapkan semua perangkat yang dibutuhkan oleh guru.

Demikian juga dengan kendala yang dihadapi para siswa dan para guru di dalam pembelajaran online. Tantangan utama dalam pembelajaran online bagi guru ialah jaringan internet, jarangnya pelatihan dan kesadaran. Rendahnya kesadaran menyebabkan siswa tidak mengikuti pembelajaran daring diikuti oleh kurangnya minat dan keraguan tentang kegunaan pembelajaran daring, kurang kehadiran, kurangnya sentuhan pribadi, dan kurangnya interaksi karena masalah konektivitas. Semua masalah tersebut akan bisa diminimalisir jika pihak sekolah dan guru mempunyai alternatif media belajar dan mempunyai atensi yang kuat kepada siswa dan tujuan belajar. (*)

Penulis: Muhammad Arwan, Mahasiswa Prodi PGMI STAI Sangatta
Email : [email protected]

  • Bagikan